Orang Papua harus paham adat

Portal Berita Papua | NavanduNews,

Navandunews.com – Ketua Badan Musyawarah Adat (BMA) Kabupaten Nabire, Dirk Rumawi mengangkat Wartanoi Hubert sebagai anggota luar biasa BMA guna melaksanakan kewenangan BMA di bidang hukum adat.

Ketua BMA juga mengukuhkan lima orang lainnya (yang disebut tim lima) dengan tugas; pertama memberikan pemahaman tentang hukum adat, kedua, menyebarkan hukum adat dan ketiga adalah mencerahkan adat ke penjuru kabupaten Nabire melalui para pemangku adat.

Menurut Rumawi, tujuannya untuk membantu guna meluruskan persoalan adat yang belum bisa terakomodir, terutama tentang wilayah adat dan hukum adat. Ada selisih pendapat, antara masyarakat adat tentang kawasan atau lokasi. Itu terjadi misalnya di daerah Waisaru (Napan).

“Sudah tentu sebagai masyarakat adat, maka masing – masing punya tempat mencari, berkebun dan sebagainya.; tetapi harus melalui musyawarah, siapa yang harus dituakan, untuk bisa menyelesaikan sengketa tanah, sengketa pohon, sengketa kayu, dan hasil lainnya,” ujarnya saat mengukuhkan enam orang tersebut, Jumat (08/08/2019) pekan lalu.

Untuk itu kata dia, tugas adat mereka yang baru saja dilantik adalah mengatur tempat dan kawasan itu dan bertanggung jawab terhadap Waisaro. Marga Wartanoi dan Sawaki bertanggungjawab dan menjaga kawasan itu.

“Tugas adat adalah, menyelesaikan persoalan adat, hukum adat dan mewartakan kepada generasi muda tentang apa itu adat yang sebenarnya di wilayah kalian,” tegas Rumawi.

Anggota Luar Biasa BMA Kabupaten Nabire, Wartanoi Hubert mengatakan hal ini perlu dilakukan pihaknya, untuk mengaktualisasikan apa sebenarnya yang dimaksud dengan hukum adat yang berlaku di Papua, khukusnya di wilayah Waisaru. Sebab menurut Hubert, saat ini banyak yang tidak tahu tentang adat.

“Nilai – nilai luhur dalam hukum adat tidak pernah dihargai, tidak dikedepankan dalam menyelesaikan persoalan di Papua (terutama persoalan adat).

Menurut Hubert, OAP saat larut dalam arus modernisasi yang mengakibatkan harkat dan martabatnya tidak pernah dihormati itu. Contoh lain seperti masalah hubungan antara orang tua dengan anak, perkawinan, warisan, dan silsilah, yang harus menjadi patokan bagi seseorang yang mengaku diri sebagai anak adat.

Seperti masalah perkawinan anak dengan orangtua kandung, padahal dilarang dan bertentangan dengan hukum adat, walaupun tidak tertulis dan tidak diajarkan di bangku sekolah. Namun hukum adat itu turun temurun berlaku. Hal lainnya; hak orang Papua (suku asli) di Nabire tidak pernah sama sekali muncul di permukaan.

“Hal tersebut terjadi karena orang sudah tidak tahu adat. Sama seperti di beberapa kabupaten di Papua, tidak pernah menjadi pemimpin di negerinya,” ujarnya.

Untuk itu, Hubert ingin menyampaikan kepada orang Papua akan adatnya yang telah tergerus habis. Padahal pemerintah sedang gencar – gencarnya melakukan pembangunan nasional, namun sebenarnya OAP entah ada di posisi mana, tidak bisa menyesuaikan diri dengan pembangunan bangsa dan haknya hilang percuma.

“Lalu, akan kampanye dan demo di mana – mana. sebenarnya hal yang sederhana saja, bagaimana menempatkan diri posisi adat, harus tahu adat. Lihat contoh di daerah lain seperti Batak dan Bugis hukum adatnya sangat kental. Perlu ada penjelasan kepada anak Papua supaya menempatkan diri yang baik pada tempatnya, agar dihormati,” ujarnya.

Kepala Suku Yaur, Saul Waiwowi menambahkan beberapa catatan terkait adat yang terkadang orang tidak banyak mengerti .

Sebab menurut Waiwowi, ada anak adat yang tidak mengerti adat, bahkan beranggapan sebagai hal tabu, padahal adat memiliki punya nilai positif ketika diterjemahkan secara baik. Sehingga, dengan digelarnya kegiatan hari ini, lebih mengarah kepada meluruskan tentang bagaimana anak adat menempatkan diri dengan baik.

“Contohnya, saya orang suku Yaur dan kebetulan pindah dan tinggal di Napan. Nah, sebagai anak adat seharusnya harus tahu diri bahwa saya datang di sana dan hanya tinggal dengan latar belakang sebagai orang Yaur. Tetapi yang terjadi saat ini adalah saya datang dan tinggal dengan mereka lalu ingin berkuasa di sana atas tempat itu, ini sering terjadi di Nabire bahkan seluruh Papua,” tandasnya.*(*)*

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code