Tiang penyangga itu telah rubuh

Portal Berita Papua | NavanduNews,

Navandunews.com – Uskup Keuskupan Timika, Mgr. John Philips Saklil, Pr. telah meninggal dunia pasa Sabtu, 03 Agustus 2019 pukul 14.23 Waktu Papua, di Rumah Sakit Mitra Masyarakat Timika Caritas Papua.

Meninggalnya salah satu pemimpin Gerega Katolik ini dikabarkan, akibat terjatuh usai memberikan pembinaan kepada imam – imamnya. Saat dilarikan ke Rumah sakit, namun tidak tertolong.

Kabar itu langsung tersebar di seluruh Tanah Papua bahkan Dunia. Sebagai manusia, banyak diantara umatnya, seakan belum bisa menerima kenyataan tersebut.

Mereka masih merindukan sosok Uskup asak Kei ini. mereka sedih, menangis bahkan merasa bagai anak kehilangan induknya dengan kepergian sang gembalanya untuk selama lamanya. Berikut tanggapan beberapa umat tentang Seorang Uskup Saklil.

Marthinus Taa, dari gereja paroki Kristus Raja (KR) Nabire, mengakui Uskup Mgr. John Saklil adalah sosok yang terkenal sangat dekat dengan umat. Ia angat dekat dengan para ibu rumah tangga, bahkan anak anak dan orang miskin tanpa memandang bulu.

Taa, bilang bahwa Uskup Saklil adalah Tokoh kharismatik. siapa saja bisa berkomunikasi langsung dengannya. via telp/SMS, bahkan bertemu secara pribadipun bisa.

“Saya ingat kalau ketemu beliau, selalu bercanda dulu mulai cerita sesuatu yang serius,” tutur Taa di Nabire. Minggu (04/08/2019).

Menurut Marthinus, almarhum Uskup Saklil dengan motto “PARATE VIAM DOMINI” telah terwujud, dengan berbagai program . mengkaderkan putra daerah jadi imam, pendidikan YPPK diangkat, kesejahteraan umat melalu program unggulan GERTAK, dll.

“Dengan perginya untuk selamanya, serasa tiang penyanggah itu telah rubuh, Api tunggu pasti padam.

Bagi Marthinus Taa, Almarhum Uskup Saklil banyak berkarnya untuk Tanah Papua. karya Keselamatan, keberpihakan kepada OAP, Pendidikan Pastoral, sosial Gereja, Karya penegakan HAM, keadilan dan kebenaran.

“Dan Almarhum Bapak Uskup adalah pemberani, ” terangnya.

Yohanes Reyaan, dari Gereja Paroki Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire berpendapat, sosok Uskup John Saklil tegas, disiplin, ramah dan visi misi yang cemerlang. Beliau juga sangat dekat dengan umat serta memahami liturgi gereja Katolik.

Bapak Uskup juga humoris, kebapakan, penuh perhatian dan tidak terlalu menjaga jarak dengan umatnya bahkan sangat peduli dengan umat terutama Orang Asli Papua (OAP) .

“Bapak Uskup selalu berusaha untuk memberi pencerahan dengan ‘Gerakan Tungku Api’, agar dapat memberdayakan OAP diatas tanahnya sendiri dan dapat membangun ekonomi keluarga ke arah yang lebih baik. selamat jalan ke rumah Bapak ke di sorga, ” kata Reyaan.

Rosmawati Samosir, dari Paroki Nabire Barat juga berujar, Uskup Saklil adalah utusan Allah yang mau menyatu dan menyuarakan hak – hak masyarakat kecil terutama di tanah Papua, kini ia telah tiada.

Uskup adalah sang motovator, kalau mau berubah harus punya rumah, punya ladang dan punya kandang.

“Saya tak bisa lupa khotbah uskup semasa hidupnya. ” jangan ada org katolik yang mati di rumah kos, dan lain – lain. Jadilah manusia yang bisa mendengar dengan benar, berkata dgn benar dan bertindak dengan benar. 1 +1 = 2, jangan buat 1+1= 0 atau 3 ,4 dan seterusnya. selamat beristirahat bapak yang baik,” kata Samosir menirukan khorbah uskup dengan sedihnya.

Karya

Mgr. John Philip Saklil (lahir di Kokonao, Mimika Barat, Mimika, Papua, Indonesia, 20 Maret 1960; umur 59 tahun) adalah Uskup di Keuskupan Timika yang telah menjabat sejak 19 Desember 2003.

Ditahbiskan menjadi imam diosesan Keuskupan Jayapura pada tanggal 23 Oktober 1988. Bersamaan dengan pendirian Keuskupan Timika sebagai pemekaran dari Keuskupan Jayapura, Mgr. Saklil ditunjuk sebagai Uskup pertama Timika pada 19 Desember 2003.

Ditahbiskan sebagai uskup pada 18 April 2004. oleh Mgr. Leo Laba Ladjar, O.F.M. sebagai Penahbis Utama, didampingi oleh Uskup Agung Emeritus Merauke, Mgr. Jacobus Duivenvoorde, M.S.C. dan Uskup Agats, Mgr. Aloysius Murwito, O.F.M.

Sebagai uskup, ia memilih moto “Parate viam Domini” (Mat 3:3, par. Mrk 1:3, Luk 3:4). Hal ini merupakan suatu seruan kenabian yang ditujukan kepada semua orang, terutama seluruh yang terlibat di Keuskupan Timika untuk bertobat, menyiapkan diri, membersihkan hati, supaya diselamatkan oleh Tuhan.

Pada 25 Juli 2004, ia menjadi Uskup Penahbis Pendamping bagi Mgr. Nicolaus Adi Seputra, M.S.C. sebagai Uskup Agung Merauke. Pada Kamis, 7 Oktober 2010, Gereja Katedral Tiga Raja Timika ditahbiskan, dengan selebran utama Mgr. Leopoldo Girelli.

Pesta terkait penahbisan gereja katedral ini telah berlangsung sejak satu minggu sebelumnya.

Ia berulang kali mengajak umat Keuskupan Timika untuk menggali potensi yang ada, demi terwujudnya Gereja lokal yang mandiri.
Sejak 2009 hingga 2015, ia terpilih menjadi Ketua Komisi Kepemudaan KWI.

Semasa jabatannya, ia membaca keprihatinan Orang Muda Katolik yang telah lama terjadi. Hal ini membawa kepada pelaksanaan Indonesian Youth Day pertama yang diselenggarakan di Sanggau. Paus Benediktus XVI menyatakan kegembiraan atas pelaksanaan IYD 2012 tersebut.

Sejak 27 Juli 2019 Mgr John Philip Saklil Pr juga mendapat tugas dari Paus Fransiskus untuk menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke. Penunjukan itu menyusul keputusan Paus Fransiskus membebas-tugaskan Mgr Nicolaus Adiseputra MSC dari jabatannya sebagai Uskup Keuskupan Agung Merauke.*(*)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code