Masyarakat adat : Apa manfaat mega proyek pembangunan resort di pantai wisata Sowa

Juru Bicara Syku Yerisiam Gua, Gunawan Inggeruhi – NN

Portal Berita Papua | NavanduNews,

Navandunews, ­– Masyarakat adat pemilik hak ulayat di Pantai Sowa (Wisata hiu  paus), Distrik Yaur, Kabupaten Nabire, mempertanyakan pembangunan mega proyek resort yang dibangun padi pantai tersebut. Mereka menilai. Tidak ada dampak yang dirasakan masyarakat bahkan sejak ramainnya kunjungan wisatawan di hiu paus, tidak ada manfaat kepada masyatakat setempat.

Dikabarkan, ada proyek di Taman Nasional Teluk Cendrawasi (TNTC) yang saai ini sedang di bangun salah satu investor. Tepatnya di wilayah Kampung Sima dan Kampung Akodiomi, Dsitrik Yaur, Kabupaten Nabire.

Gunawan inggeruhi, salah satu pemilik hak ulayat mengatakan, proyek yang hendak di ba gun oleh salah satu pengusaha di areal tersebut, apa manfaatnya bagi pihaknya dan warga sekitar.

“Saya mau tanya, apa manfaatnya bagi kami,” ujar Inggeruhi kepada jubi di Nabire. Rabu (17/07/2019).

Dikatakan Inggeruhi, pihaknya tidak pahan nantinya akan dilibatkan seperti apa dalam  proyek milyiaran rupiah ini dan sebagai penerima manfaat masih buta terhadap dampak dari proyek tersebut.

Ia bilang, jika manfaatnya hanya memberi peluang bisnis bagi sekelompok usaha kelas menengah keatas, serta keberhasilan hanya diukur dari tingkat Pendapatan Asli Daerah (PAD), tanpa melihat dampak manfaat bagi masyarakat maka sama saja bohong.

Jika klaim, TNTC sebagai aset Negara, maka kehadiran Negara seperti yang disebutkan dalam UUD 45, terkait kekayaan yang terkandung didalam bumi NKRI adalah milik Negara yang diperuntukan sebesar – besarnya untuk kesejahtraan/kemakmuran rakyat kami pertanyakan.

“Jadi ini kejar untung investor, atau kejar PAD atau apau dan apa peran Negara. Lalu ada dugaan, selama ini info yang kami dapat bahwa tidak ada PAD yang masuk ke kas daerah dari TNTC. Artinya ini hanya dinikmati sekelompok orang saja,” bebernya.

Perlu diketahui, Lanjut Inggeruhi, bahwa wilayah suku Yerisiam memiliki peran yang penting atas wilayah TNTC. Hal itu terbukti dengar sejarah kelam. Sehingga perlu diataur sebaik mungkin agar tidak menimbulkan konflik social yang bisa saja terjadi pertumpahan darah.

Sebab, suku Yerisiam menganut sistem komunal, dalam mekanisme pengambilan keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. apalagi menyangkut Sumber Daya Alam (SDA)nya, tidak dapat diputuskan oleh indifidu. Pengalaman terbukti saat pasca expansi sawit yang dibawah oleh satu dua orang dan kini dampaknya telah dirasakan oleh masyarakat yang hingga kini belum tuntas. Perjuangan panjang mengadvokasi suku kami, baik membenahi permusuhan antara kelompok pro dan kontra dalam konflik sawit menjadi pelajaran berharga bagi suku yerisiam kampung sima.

“Maka kami tidak ingin terulang kejadian Sawit yang mungkin saja di TNTC. Sebab hal itu tidak diurus oleh para elit, kami sebagai pengurus suku yang jatuh bangun menyelesaikan persoalan ini. Seakan terkesan para pemangku kepentingan mengadu domba masyarakat. Sekali lagi kami tidak mau terulang di TNTC,” tegas juru bicara Yerisiam ini.

Untuk Gunawan berharap agar agar semua pelaku usaha yang ingin berinvestasi wilayah adat sukunya, agar jika ingin masuk harus melalui lembaga adatnya sebagai pengambil kebijakan tertinggi.

Karena pihaknya menilai, mega proyek TNTC yang dibangun di sowa sarat kepentingan. proyek kelas elit; (bupati, kadis parawisata, dan kelompok borjuis lainya).

Sehingga sebagai Humas suku Yerisiam, meminta kepada Bupati Nabire, Kepala Balai TNTC, Kadis Parawisata untuk membuka ruang dengan pemilik tempat wisata dimaksud untuk duduk membicarakan manfaat  yang akan diterima oleh masyarakat yang berdampak, terumata Suku Yerisiam sebagai pemilik hal ulayat.

“Tanpa ada Diskusi dari berbagai pihak yang berkepentingan, tentunya tidak akan selesai masalah ini, jadi sekali lagi kami harap,” ujarnya.

Terpisah, Leghislator Papua, Jhon NR Gobai juga menginginkan agar Balai TNTC, Pemda Nabire dan Dinas terekait dan masyarakat adat pemilik hak ulayat untuk dapat bekerjasama dalam menjaga dan mengelola objek wisata alam tersebut, terutama masyarakat suku Yerisiam.

“Agar dengan adanya pertemuan dan kerjasama yang baik, seluruh pihak diharapkan dapat saling mendukung dalam pengelolaan Wisata Hiu Paus di Kwatisore. Sehingga nantinya menjadi sumber peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitar lokasi wisata hiu paus, dengan peningkatan ekonomi, agar dampaknya dirasakan masyarakat setempat,” ujarnya.

Gobaipun memberikan solusi dalam penghelolaan TNTC. Seperti ; Membuat Kelompok Pengelola, adanya  unit – init bisnis pendukung wisata, bagaimana pengelolanya, mengatur berapa kontribusi bagi rakyat dan membuat kesepkatan untuk apa dana itu digunaka serta menentukan kemana dan berapa besar kewajiban kepada Pemda Nabire. “Saya pikir harus duduk bersama, pemkab jangan kerja diam – diam tanpa libatkan masyarakat sebab dampaknya akan buruk. Tidak susah kok, kalau mau ajak masyaraakat bicara,” tandasnya.*(*)*

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code