Jiwa Misioner para perintis Daerah Meeuwo, Apa Penghargaan kita

Paniai – NN/Ist.

Portal Berita Papua | NavanduNews,

PELAYANAN pada awal dibukanya Daerah Meeuwo, baik oleh gereja maupun Pemerintahan dilandasi dengan sikap yang konsisten, tekun membanguan daerah untuk menyiapkan anak-anak daerah ini untuk pendidikan, menegakan hukum bagi mereka yang bersalah dengan sebuah sistem hukuman yang memang membuat oarang merasa ada efek jeranya.

Mereka dengan sungguh-sungguh menyiapkan daerah ini sebagai daerah yang akhirnya menjadi  daerah perintis bagi pendidikan di daerah pegunungan tengah, baik dibidang agama, pemerintahan, pertanian serta kesehatan dan kesejahteraan.

Hal itu ditandai dengan dari Gereja Protestan, dibukanya Sekolah Guru Biasa (SGB) YPPGI Enagotadi, yang menjadi sumber guru mulai dari Paniai sampai di Wamena, merauke, jayapura.

membuka  Sekolah Teologi Pertama (STP( di Kebo, yang menjadi sumber pendeta-pendeta lokal untuk melanjutkan tugas pendeta Zending CAMA, yang bertugas sampai di daerah amungsa serta baliem.

Dari gereja katolik dibuka Pusat Belajar Wanita (PBW) untuk mendidik para putri-putri kampung agar dapat menjadi istri yang paham kesehatan keluarga, serta dibangun Sekolah Rakyar (SR) serta  SMP YPPK di Epouto, yang lulusannya dikirim ke Biak bagi yang ingin menjadi Guru dan yang lainnya ke Jayapura.

Hal ini dilakukan dalam rangka mempersiiapkan anak-anak Meeuwo agar dapat merubah nasib hidupnya, kelak menjadi pemimpin di daerah meeuwo ini.

Karya Perintis

Dalam tugas-tugas inilah Pemerintah mulai memperkenalkan kopi dan jenis sayur-sayur lainnya. bersama dengan pegawai-pegawai lokal seperti; Kehidupan kesehariannya para misioner hidup membaur dengan masyarakat, anak-anaknya berteman dengan anak-anak di kampung tersebut.

Mereka bersama bermain, membuat jerat, bermain perang-perang, serta mencari bunga untuk di berikan kepada suster, karena suster akan memberikan hadiah.

Itu diakui oleh Paul Paksoal, Agus Sumule, Matius Kelanit, Piet Maturbongs,dll. Kenyataan kehidupan ini biasanya diceritakan oleh orang tua di Paniai. betapa akrabnya mereka dengan anak dari pendeta paksoal, pak sumule, kelanit, meterai, keakraban itu terbawa hingga mereka telah menjadi dewasa.

Nilai yang ditanamkan saat itu adalah komitmen, kesetian akan tugas msioner, pewartaan, nilai menjadikan semua bangsa menjadi murid Yesus, sehingga jiwa misioner baik orang tua maupun anak-anak dari penginjil, guru dan petugas gereja saat itu adalah mencintai dan mengasihi sesama.

Disamping itu, di Paniai juga sejak jaman Trikora datang juga guru-guru dari Jawa seperti; Karsinu, Darmono,dll menyusul juga guru-guru dari Toraja seperti: Agus Patintingan, Lamba, Malondong dan juga Manansang.

Kenyataan Hari ini; Anak Misioner dilupakan.

Papua dan Paniai saat ini menjadi daerah yang sangat terbuka dengan hadirnya kaum transmigran baik melalui program pemerintah maupun transmigrasi spontan yang dilakukan masyarakat non papua yang lain untuk mencari hidup, memperbaiki nasib daripada tinggal di kampung asal mereka.

Kehadiran kaum migran yang mempunyai motivasi yang berbeda ini tentu jiwanya berbeda dengan jiwa dari para misioner diatas yang penuh dengan semangat kenabian.

Motivasi  orang Non Mee datang ke Meeuwo Dide dan mungkin juga ini adalah untuk seluruh Papua adalah dua yaitu: Mengemban tugas perutusan gereja dan mencari nasib untuk menjadi pedagang atau PNS untuk memperbaiki nasib dari sebelumnya.

Dalam kenyataan saat ini motivasi dengan misi perutusan mulai berkurang sementara motivasi memperbaiki nasib di kampung jauh lebih tinggi. kehidupan yang dibina juga telah jauh dari persaudaraan sejati kehidupan yang ingin memperkuat dan memberdayakan masyarakat setempat, sehingga dapat menjadi pemimpin di daerahnya ini.

Kenyataan inilah yang kadang memicu konflik antara masyarakat asli dengan para Guru, petugas Pemerintahan serta petugas gereja yang baru tugas. hal ini membuat masyarakat kadang merasa tidak simpatik dengan petugas ini. Jadinya terkadang ada ungkapan oleh masyarakat bahwa “orang ini datang bertugas atau cari uang ini’.

Kehadiran kaum migran ini kadangkala saudaranya dari kampung yang sedang mengangur untuk dipekerjakan di kantornya, kadangkala jika yang berarsangkutan menjadi pimpinan sekolah. petugas Gereja atau pimpinan SKPD, dan mereka ini akan ditempatkan sebagai tenaga harian yang kemudian diangkat sebagai pegawai tetap.

Terlepas dari kemampuan namun telah hilang nilai penghargaan terhadap karya misioner rasanya telah menghantui masyarakat Meeuwodide, ditandai dengan munculnya kelompok baru yang hampir menguasai pemerintahan dan swasta.

Di Meeuwodide, hal ini tentunya telah menyinggung hati anak-anak misioner meewodide. mungkin Papua, hal ini juga telah mengatakan kepada kita betapa kita lupa akan sejarah dan karya-karya luhur orang tua mereka.

Anak-anak perintis terjebak dalam kondisi saat ini, yang serba egois, kegelisahan kekuasaan, mereka tidak kuat memperkuat eksistensi yang dibangun oleh orang tua.

Padahal dalam hati, mereka ingin menjaga kemurnian pelayanan dari orang tua mereka, dengan sungguh-sungguh membangun tanah ini, bersama dengan orang-orang terpelajar dari tanah ini.

Terbukti, saat Drs. Aleks Rumaseb menjadi Sekda Paniai, sejumlah hal telah dilakukan disana bersama dengan Bupati Yanuarius Dou, SH.

Disatu sisi anak-anak perintis hari dihadapkan pada kekuatan lajunya urbanisasi yang masuk tanpa menghargai nilai dan kelompok perintis yang telah ada sebelumnya. Juga ditandai dengan kelompok paguyuban kelurga untuk kepentingan ekonomi dan politik suku-suku ini. Sebagai alat bargaining politik menjelang pilkada dalam mengejar proyek atau jabatan tertentu di pemerintahan.

Dalam pergaulan di daerah Meeuwodide tidak pernah terjadi masyarakat key, ambon membuat konflik dengan masyarakat setempat. Karena yang ada pada waktu lalu adanya perang di obano, yang dikenal dengan perang Lesnusa, akibat sebuah perbuatan pribadi, masalah ini menjadi besar karena situasi saat itu masyarakat masih terikat dengan adat. Namun jika terjadi sekarang pasti akibat dari masalah tidak sehebat yang sering didengar.

Dalam kenyataan sekarang konflik terjadi dengan antara orang Meeuwodide dengan suku bugis, Makassar serta Buton yang motivasinya adalah merubah nasib dikampung dengan mencari uang.

Begitu juga dengan di Pemerintahan, kadang ada konflik antara suku Toraja dengan masyarakat Meeuwo, karena penganggur di kampung dibawa menjadi PNS di daerah Meeuwodide. Bahkan dengan paguyuban sebagai alat bargaining politik diupayakan memperoleh jabatan tertentu.

Dampak Negatif perlu dihindari

Hasil sebuah Misioner adalah banyak orang Meeuwo telah menjadi pendeta, Pastor, PNS, pejabat Pemerintahan, politisi. mereka ini adalah hasil dari karya misioner pada tahun-tahun yang lalu.

Seperti beberapa tokoh pertama Drs. A.P You, Alm.Herman Mote, SH, Yan Dou, SH, Alm.Alo Gobai, dll, dan selanjutnya banyak orang yg muncul.

Dampak hari ini

Yang perlu dihindari adalah kaum urban yang bukan anak-anak misioner namun sedaerah dengan para misioner muncul dan ingin menguasai karya misioner terdahulu. karena merasa karya masa lalu dibuat oleh saudaranya dan tidak memberikan kesempatan kepada anak-anak setempat.

Tidak memberdayakan atau melakukan penguatan kepada anak-anak setempat, tentunya kelompok ini mempunyai motivasi yang lain hanya untuk memperbaiki nasib hidup.

tetapi yang terpenting anak-anak misioner dan anak-anak setempat di meeuwodide berjalan bersama dan membangun bersama, melanjutkan karya luhur para misioner.

Penghargaan kita apa?

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, hidup didunia ini adalah membuat sejarah dan membaca sejarah. hal ini berarti orang Meeuwo adalah manusia sejati, maka tentunya perlu menjadi manusia yang berjiwa dan berfikir besar dengan menghargai jasa para misioner.

Apa yang telah kami paparkan di atas adalah sebuah fakta sejarah yang pernah terjadi pada masa lalu. yang dapat kita baca saat ini. yang tentunya perlu dikongkritkan dalam pekerjaan pemerintahan dan swasta saat ini.

Dengan memberikan penghargaan yang adil dan layak kepada anak-anak dari para misioner, jabatan-jabatan penting di pemerintahan dan swasta dan bukan melihat mereka dengan sebelah mata, melihat mereka sebagai musuh dan melihat mereka dengan dendam.

Satu hal yang perlu dilihat sebagai contoh; Mgr. John Saklil, Pr, menjadi uskup timika, adalah sebuah kewajaran, walaupun dipilih oleh Paus tetapi disisi lain, ini adalah sebuah bentuk penghargaan atas pengabdian bapaknya sebagai seorang misioner  gereja katolik yang datang dari Langgur. Tentu, ada orang lain yang perlu kita hargai dan memberikan tempat kepada mereka.

Akhirnya saya, mengucapkan terima kasih atas pengabdian para misioner dari Belanda, Ambon, Key, Merauke, Bintuni, Jawa dan Toraja. pasti Tuhan akan membalasnya berlimpah berkat dan pengampunan.*(*)*

Penulis adalah Jhon NR Gobai,

Anggota DPRP Papua

174 total views, 1 views today

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code