Balik dari Desa Dlingo, Pemuda kampung Kimi langsung terapkan ilmunya

Portal Berita Papua | NavanduNews,

Portal Berita Papua | NavanduNews,

Nabire, NN – Pemuda Kampung Kimi, Distrik Teluk Kimi – Nabire langsung mempraktikkan hasil studi banding telah diperoleh dari desa Dlingo, Bantul, Yogyakarta.

Sebelumnya, tim pemuda kampung tersebut yang digawangi Tomas Marey dan Nanang ini, diberangkatkan ke kampung Dlingo untuk belajar tentang keunikan dan keberhasilan pesona wisata alam dan pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) di desa tersebut.

Ketua Pemuda Kampung Kimi, Tomas Marey saat ditemui Jubi, Kamis (17/1/2019) mengatakan setelah melihat dari dekat desa Dligo yang hanya maju dengan wisata desanya, pihaknya tertarik untuk menerapkannya di kampung Kimi.

“Kami sudah ke sana lihat, desa itu tidak punya apa – apa, tapi sangat maju dengan dengan wisata alam, padahal daerahnya bebatuan,” ujar Marey.

“Kami sudah belajar di sana dan ingin kembangkan di kampung sini karena potensi ada, alamnya menungkinkan,” katanya.

Tomas Marey dan Nanangpun mengajak pemuda yang ada di kampung tersebut untuk bergabung. Walau awalnya hanya lima orang tapi keduanya tidak putus asa.

“Kami ajak teman – teman, tapi untuk mengubah pola pikir tidaklah mudah. pertama lima orang, dan setelah dijelaskan tujuan dan manfaat seperti apa, akhirnya saat ini sudah bertambah jadi 12 orang ,” terang Marey.

Katanya, Kampung Kimi punya panorama yang indah, terdapat tebing – tebing karang dan enam gua. Ada dua gua di antaranya yang memiliki mata air yang jarang mengering.

“Untuk awal, kami buka dulu satu ini dan masih dalam tahap pengerjaan. Setelah ini lima gua lainnya akan kami lanjutkan lagi serta beberapa program pendukung lainnya, seperti *flying fox*,*rock climbing*, *riverflow *dan tidak menutup kemungkinan jangka panjangnya harus ada kolam renang,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Nanang yang juga merupakan seorang aparat kampung tersebut menambahkan pihaknya sangat mendukung. Berhubungan dengan biaya yang digunakan, untuk sementara masih diupayakan secara swadaya.

“Sebagai aparat kampung kami dukung, dan harus ada bukti dulu baru kampung akan mendukung dengan finansial,” katanya.

Dijelaskan Nanang, tujuan membuka pesona wisata alam tersebut untuk menjadinya sebagai sumber usaha Bumdes. Hasilnya nanti akan dikelola untuk PAD Desa dan pembangunan masyarakatnya.

Pihaknya akan berupaya menggerakkan masyarakat untuk terlibat, sehingga ke depannya akan menjadi lapangan kerja. Hasil kebun dan laut akan dijualnya di tempat wisata tersebut.

“Akan ada retribusi untuk pengunjung dan lainnya, tunggu saja , tidak lama lagi kami buka untuk umum setelah beres – beres,” tuturnya.

Ervita Dwi Astuti, Direktur Seboratu Sahabat Alam desa Dlingo, menambahkan bahwa hal yang dilakukan merupakan Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL) dari kunjungan pemuda Kimi ke daerahnya.

Dirinyapun berkunjung balik untuk memberikan dukungan dan semangat kepada pemuda Kimi walau dengan biaya sendiri.

“Ini bagian dari RKTL, saya bilang kalau ingin maju desamu lakukanlah merekapun tergugah, ingin belajar dan ada semangat yang saya lihat, saya mau liat keseriusan memreke” tuturnya.

Kata Ervina, untuk membangun desa tidak perlu harus membuat proposal ke kabupaten atau pemerintah, tetapi masyarakat terlebih dulu melakukan sesuatu dari potensi yang dimiliki.

Jika tidak melakukan, maka orang akan melihat dengan sebelah mata, tapi kalau sudah ada buktinya tidak mungkin pemerintah menutup mata.

“Kita buat dulu, kalau ada bukti pasti ada dukungan dari berbagai pihak,” katanya.

Menurut Ervina, dari cerita di luar tentang Papua yang didengarnya, banyak terdapat cerita buruknya, padahal setelah dia melihatnya sendiri, tidaklah demikian.

“Jujur saya lihat Papua ini di luaran sana banyak cerita keburukannya, padahal tidak juga,” ujarnya.

Dia bilang, jika ada beberapa orang Papua yang studi banding hanya sekedar main – main/jalan jalan untuk menghabiskan dana. Ini yang harus diubah, kalau studi banding harus ada hasilnya.

“Dan untuk masyarakat kampung Kimi, saya bilang, saya punya aturan sendiri. kalau memang uang studi banding dari desa maka harus kembalikan ke desa, disosialisasi dan harus mendongkrak untuk maju, dan saya akan bantu mereka,” terangnya.*(*)*

#TR

293 total views, 3 views today

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code